Semangat Tanpa Batas

20161127pbsi_hoss_tontowililiyana14Kalimat “semangat tanpa batas” diucapkan Liliyana Natsir dalam tayangan iklan televisi disela-sela penanyangan langsung babak final Hong Kong Open Superseries dimana bertemunya dua finalis asal Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto. Kalimat yang disampaikan tersebut bukan sekedar memenuhi tuntutan peran dalam iklan tetapi juga terpatri di lapangan. Tontowi/Liliyana berhasil meraih juara setelah mengalahkan yuniornya tersebut dengan skor, 21-19 dan 21-17.

Keberhasilan Tontowi/Liliyana di Hong Kong ini, berarti mereka menjuarai dua turnamen besar berturut-turut dalam dua minggu. Bagi pemain kawakan seperti mereka, memang bukanlah suatu kejutan besar. Namun dibalik itu, ada sebuah perjuangan tanpa batas yang berhasil mereka lewati. Liliyana yang sudah terlihat cedera sejak pekan sebelumnya di China Open Superseries, tetap tampil bersemangat di Hong Kong.

“Kami sangat puas dengan hasil ini. Karena kami bisa merebut dua gelar dalam dua minggu. Dengan kondisi saya yang seperti ini, tentu saya mengucap syukur kepada Tuhan atas prestasi yang kami peroleh,” kata Liliyana kepada situs remi PBSI.

“Tadinya kami sempat ingin memutuskan untuk mundur setelah Ci Butet (Liliyana Natsir) agak cedera. Kami juga sempat ragu-ragu untuk main di sini. Tapi saya meyakinkan Ci Butet bahwa kami bisa main di sini. Apalagi saya lihat arah angin di lapangan cocok buat kami. Jadi coba aja, kami paksa buat main di sini. Ternyata benar, hasilnya bisa maksimal,” ujar Tontowi.

Demikianlah komitmen besar seorang Liliyana, bahkan tidak menyerah walaupun lawan pamungkas adalah yuniornya sendiri. Tetapi “semangat tanpa batas”, bukan hanya milik Liliyana. Kalau kita menyaksikan seksama pertandingan di Hong Kong, terlihat daya juang Tontowi yang mengcover sebagian besar lapangan. Dengan keterbatasan gerak dari Liliyana, Tontowi berhasil menutup ruang dengan baik. Kedua pemain juga tidak cepat puas dengan prestasi-prestasi sebelumnya meskipun mereka sudah meraih prestasi tertinggi yakni emas Olimpiade.

“Setelah kami mendapat medali emas Olimpiade, mungkin orang berpikir kami sudah santai-santai dan nggak mikir prestasi lagi. Tapi ternyata kami bisa membuktikan di China Open Super Series Premier dan di sini lanjut lagi menang di Super Series,” kata Liliyana.

Pelajaran berharga dari dua pebulutangkis senior Indonesia ini, yang patut menjadi contoh bagi yunior-yuniornya. Bahkan bisa dijadikan inspirasi bagi semuanya dalam berjuang dibidang profesinya masing-masing.

(hendrigumay.wordpress.com )

Terhentinya Sebuah Kejayaan

20161120pbsi_cossp_marcuskevin13 20161120pbsi_cossp_tontowililiyana2(20/11/2016)

Indonesia meraih dua gelar juara China Open 2016 melalui pasangan ganda putra Kevin Sanjaya/Gideon Marcus Fernaldi dan pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Mereka bersama Jan O Jorgensen (Denmark-tunggal putra), PV Shindu (India-tunggal putri) dan Chang Ye Na/Lee So Hee (Korea-ganda putri), telah menihilkan gelar juara untuk tuan rumah China. Menurut catatan pribadi saya sejak 1986, belum pernah terjadi, China kehilangan semua gelar juara. Bahkan minimal, China merebut dua gelar juara. Kini, setelah 30 tahun, kegagalan itu terjadi.

Keruntuhan kejayaan China ini terjadi, setelah didahului oleh puncak kejayaan. Sebuah kejayaan telah membuat sang empu kejayaan menjadi terlena. Penyiapan generasi penerus tersumbat oleh kehebatan pendahulunya, yang selalu dikedepankan.

Indonesia pun sebenarnya sudah lebih dahulu mengalaminya. Sejak Indonesia Open digelar tahun 1982, Indonesia selalu meraih gelar juara sampai akhirnya gagal total tahun 2007. Artinya runtuhlah kejayaan selama 25 tahun. Demikian pula tradisi emas Olimpiade yang dibuat Indonesia sejak tahun 1992, sempat terputus setelah 20 tahun, atau tepatnya tahun 2012.

Belajar dari pengalaman tersebut, sudah seharusnya lapisan generasi penerus menjadi perhatian. Tuntutan masyarakat agar meraih gelar juara, telah menempatkan pemain senior menjadi fokus utama. Penyiapan regenerasi baru, sering dilupakan.

Ibarat sebuah kebun, seharusnya pengurus jangan hanya fokus kepada pohon yang sedang berbuah, tetapi juga menyiapkan pohon-pohon yang tidak bisa berbuah sekarang dan baru bisa dipetik oleh generasi pengurus selanjutnya. Memang bukan hal yang mudah, tetapi bukan tidak dapat dilaksanakan. Hanya diperlukan sebuah “jiwa besar”.

 

 

Emas Olimpiade di Hati Fans Bulutangkis

Sambut Juara2Menurut catatan saya yang tidak penting, sudah lima tahun terakhir para fans bulutangkis atau dikenal juga dengan sebutan Badminton Lovers (BL) menyambut pahlawan olah raga yang mencatat prestasi di negeri orang. Mulai dari tahun 2012 ketika Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir meraih gelar All England pertama kali dan berlanjut sampai dua tahun kedepan, 2013 dan 2014. Bahkan tahun 2014, dua gelar dipersembahkan pahlawan Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ganda campuran) dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (ganda putra).

Khusus tahun 2013, kegembiraan bertambah karena dari event yang lain, Indonesia meraih dua gelar juara dunia dari Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ganda campuran) dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (ganda putra). Sekali lagi BL berkesempatan menyambut pulang para pahlawan di bandara Soekarno- Hatta. Para BL yang rata-rata berusia muda ini sangat militan ketika diajak menyambut idolanya. Ini diulangi pula ketika Praveen Jordan/Debby Susanto meraih juara All England tahun 2016.

Ketika Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Owi-Butet) dipastikan merebut medali emas satu-satunya bagi Indonesia di Olimpiade Rio 2016, para fans berat bulutangkis sudah bersiap melakukan penyambutan di bandara.

“Saya memilih jadwal sidang skripsi bulan depan, demi menyambut Owi-Butet. Rela ikut sidang gelombang terakhir,” ujar Zaim, salah satu fans yang tak pernah absen hadir dalam penyambutan idolanya.

“Saya sudah mengajukan cuti kerja untuk hari Selasa ini,” tutur Erwin, admin salah satu media sosial bulutangkis dengan pengikut terbanyak di Indonesia.

Namun kali ini, acara sederhana dari fans tersebut, tidak bisa dilakukan. Ada acara yang lebih besar yang wajib didukung. Sebagai fans, sudah seharusnya gembira melihat sudah banyak pihak yang akan menyambut kedatangan pahlawan olah raga. Semoga perhatian banyak pihak tersebut, akan konsisten demi kejayaan bulutangkis Indonesia. Untuk para fans, janganlah kecewa dan seharusnya gembira. Kita tetap hadir dipinggir-pinggir jalan yang dilalui konvoi peraih medali Olimpiade. Emas Olimpiade adalah kebanggaan dihati para fans setia bulutangkis.

Sebelum dan Sesudah Menjadi Juara All England

Saya menulis status di Facebook, sebelum dan sesudah Praveen Jordan/Debby Susanto menjadi juara All England 2016. Tulisan pertama, saya tulis menjelang babak perempat final All England 2016 dan yang kedua, sehari sesudah mereka tiba di tanah air dengan status juara. Berikut kedua tulisan status FB tsb:

 

(11 Maret 2016)

Semangat Christian Hadinata

12805890_10154015645503147_5726100481358329653_nMalam ini, dua ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto akan bertarung di babak perempat final All England menghadapi lawannya masing-masing. Tontowi/Liliyana bertemu pasangan suami istri asal tuan rumah Chris/Gabrielle Adcock, Sedangkan Praveen/Debby berjumpa pemain negeri tembok raksasa Liu Cheng/Bao Yixin. Kedua pasangan merupakan harapan terakhir Indonesia di All England tahun ini.

Bicara sektor ganda campuran, tentu harus kita harus ingat sosok Christian Hadinata. Dia bersama Imelda menjadi pasangan ganda campuran pertama Indonesia yang berjaya di arena All England. Itu terjadi 37 tahun lalu dan sampai hari ini Christian masih mendedikasikan dirinya untuk bulutangkis. Ia berkeliling beberapa kota untuk mencari bibit pebulutangkis berpotensi. Ia menjabat sebagai ketua tim pemandu bakat Audisi Umum PB Djarum 2016.
Semoga semangat Christian Hadinata menjalar kepada empat pemain Indonesia yang akan bertanding malam ini.

11 Maret 2016, Perempat final, Praveen Jordan/Debby Susanto – Liu Cheng/Bao Yixin (CHN), 21-14, 23-21

12 Maret 2016, Semifinal, Praveen Jordan/Debby Susanto – Zhang Nan/Zhao Yunlei (CHN), 21-19, 21-16

13 Maret 2016, Final, Praveen Jordan/Debby Susanto – Joachim Fisher Nielsen/Christinna Pedersen (DEN), 21-12, 21-17

(16 Maret 2016)

Buah Manis dari Kerja Keras dan Tekad

384253_10154034239458147_3576026581752082078_nAwal tahun 2010, saya datang ke GOR di Petamburan untuk mengikuti acara Mabar (Maen Bareng) komunitas. Karena lapangannya akan dipakai komunitas, atlet-atlet menghentikan aktifitasnya kecuali satu orang. Ia satu—satunya atlet yang masih berlatih dengan ditemani seorang pelatih. Saat itu ia berlatih smash hingga ratusan kali smash terlontar, sedangkan pelatih bertugas sebagai pengumpan. Smash-nya sangat keras dan terarah. Ia berhenti berlatih setelah lapangan benar-benar, sudah akan digunakan oleh peserta Mabar.

Tahun 2014, saya ketemu lagi dengannya dan beberapa kalangan bulutangkis di sebuah restoran di kota Manado. Saat itu, ia sedang berbincang dengan legenda bulutangkis Indonesia Christian Hadinata. Mantan pemain yang dipanggil koh Chris itu bercerita kepada lawan bicaranya,tentang kejayaan masa lalu sewaktu menjuarai All England beberapa kali. Yang menjadi lawan bicara koh Chris pun menimpali bahwa suatu saat dialah yang akan menjadi seperti yang koh Chris alami.

Cerita pertama bisa dikatakan adalah cerita tentang kerja keras, sedangkan cerita kedua adalah tentang sebuah tekad yang diucapkan sangat berani di depan orang yang telah meraihnya terlebih dahulu. Dan orang yang dimaksud adalah Praveen Jordan. Anak muda asal Bontang ini meraih Juara ganda campuran All England 2016 bersama atlet putri kelahiran Palembang, Debby Susanto.

Semoga Kerja Keras dan Tekad tersebut, tidak berhenti disini. Teruskan kejayaan Olimpiade Rio 2016.

Membentuk Tim Empat, “Orang Gila Bulutangkis”

(Catatan : Tulisan ini menggunakan Ejaan yang tidak disempurnakan)

Pekerjaan apa yang paling menyenangkan?

Jawaban adalah pekerjaan di bidang hobby atau kesukaan sendiri. Dengan bekerja di bidang yang disukai, maka “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlewati”. Menyalurkan hobby dan dibayar lagi. Padahal sebagian orang lain, menghabiskan banyak uangnya untuk hobby. Nah, ketika tahun 2009 lalu, saya ditawari agar membentuk tim penunggu GOR selama pertandingan bulutangkis alias tukang liputan, saya terima tanpa pikir panjang.

Pilihan yang berani sebenarnya saat itu karena saya tidak punya background jurnalistik yang baik. Saya menulis lebih karena hobby (baca : gila) bulutangkis. Padahal background pendidikan saya adalah teknik baik saat SLTA (baca : STM) maupun ketika kuliah es satu. Ketika diminta presentasi oleh pihak agency  mengenai bulutangkis, saya hanya menceritakan kegilaan saya saja. Saya ceritakan saja apa yang saya lakukan sejak SD hingga saat itu, dalam mengumpulkan data-data tentang bulutangkis. Tentu saja dengan memperlihatkan bukti-buktinya. Komentar dari pihak agency, cuma bilang “ada ya ternyata, orang gila bulutangkis”.

Dia gak tahu disamping gila bulutangkis, saya juga kenal sama orang-orang gila lainnya. Saya sama sekali tidak kesulitan, ketika pertama kali diminta membentuk tim yang beranggotakan empat orang. Saya juga merasa beruntung, karena pihak user memberikan training terlebih dahulu dengan pemateri mas Brotto Happy Wondomisnowo. Siapa yang tidak kenal dengan sang “Kamus Berjalan Bulutangkis Indonesia” itu.

Kali ini, saya mau corat coret sedikit “orang gila” bulutangkis yang ikut tim Empat. Pertama, saya sendiri (gak perlu diceritakan khan ya). Kedua Dania Ciptadi, ketiga Arief Rachman dan keempat Ira Ratnati. Dalam perjalanan waktu, ada anggota tim yang berganti. Dania menjadi alumni diganti Nafielah Mahmudah, lalu berganti lagi menjadi Dhonny Setiawan.

Dania Ciptadi

Dania - Sin Open 10Pertama kali kenal dengan Dania di mailing list bulutangkis (saat itu medsos belum ada). Di milis, dia sering dipanggil bung Dania karena ketidaktahuan bahwa sebenarnya Dania itu cewek tulen. Cuma gaulnya aja di milis yang banyak cowoknya. Begitu pula dengan maen bulutangkisnya, lebih sering sama cowok.

Dania ini multi talenta banget. Paling ngerti jurnalistik dari kita berempat, karena memang pernah mengikuti pelatihan Jurnalistik yang intensif. Bahasa Indonesia nya baku banget (baca : EYD), sampai-sampai terkadang kita bingung sendiri, ini bahasa apa ya. Tapi yang jelas, pilihan  kata yang dia gunakan, bisa dipastikan ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Dania - Sin Open 10bBahasa Mandarin-nya, jangan ditanya lagi. Kuliahnya aja di Beijing. Bahasa Inggrisnya apalagi, dia biasa ambil project terjemahan Inggis ataupun Mandarin. Dari tim empat, Dania pertama kali yang didaulat liputan di luar negeri seperti Singapore Open, Korea Open dll. Tapi karena kesibukannya, Dania menjadi anggota tim empat hanya sampai tahun 2012 saja.

 

Arief Rachman

1382287_677605182249669_1220893644_nKalau teman yang satu ini, paling suka ngejar Mabar (Maen Bareng) kemana-mana. Mungkin dulu obsesi-nya jadi pemain bulutangkis ya. Ikut Mabar bukan cuma di dalam negeri saja. Ia pernah Mabar di Singapura dan Malaysia.

Sering dikira orang ambon karena rambutnya yang keriting. Padahal sich Sunda thea. Dia juga multi talenta. Sebenarnya dia bekerja di bidang maintenance property di gedung-gedung besar di Jakarta. Yang nama-nya orang property, maka harus ngerti  elektrical, civil, mechanical sampai masalah kontrak dengan tenant.

Saya ajak gabung ke tim empat karena selain bisa nulis, fotography-nya juga mantab abis. Ia mengembangkan kemampuan dengan mengikuti komunitas fotography. Kalau lagi Mabar Bulutangkis, dia pasti dicari-cari karena peserta rebutan minta di foto saat action di lapangan. Punya suara emas bak penyanyi profesional. Ia jago ngeMC juga, selain jago ngedekatin MC yang asli.

 

Ira Ratnati

11951367_10207550169371788_897995104578242005_nKuliah es satu Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Cocoknya jadi anggota DPR kali ya, karena kuliah di bidang politik. Tapi lagi-lagi, kena virus gila bulutangkis yang mengantarkannya pintar menulis dan fotography bulutangkis. Ia sudah keliling ke seluruh penjuru tanah air mengikuti anak-anak muda maen di Sirnas.

Saking mendarah dagingnya mengikuti para talenta muda, ia bahkan tidak jadi menerima tawaran menjadi wartawan web PBSI. Padahal ia orang pertama yang lulus seleksi menjadi wartawan web PBSI. Sekarang Ira sudah menamatkan S2 bidang Manajemen tetapi fashionnya tetap bulutangkis.

——–

Nafielah Mahmudah

CGFbOg-UEAA5KOcPertama kali ketemu Nafielah ketika menyambut kedatangan Owi/Butet selepas juara All England 2012. Saat itu saya mewawancarai Nafi yang ikutan tim sorak dari Beel. Entah waktu itu dia Beel benaran atau Beel ikut-ikutan, tapi karena wawancara itu, saya jadi tahu dia hampir lulus kuliah Jurnalistik (baca: Fikom).  Ketika Dania menjadi alumni tim Empat, saya mengajak Nafi untuk bergabung. Awalnya ragu juga sih ngajaknya bergabung, selain karena alumni universitas terkenal, IPK-nya juga mantab. Tapi karena orangnya mau, jadilah dia bergabung.

Rupa-nya Naf ditakdirkan untuk keliling dunia. Setelah bosan keliling Indonesia, dia ditawari bertukar tempat dengan Dhonny sebagai fotographer web PBSI pada tahun 2014. Kemudian di PBSI, ternyata dipercaya sebagai penulis juga. Dengan menulis merangkap fotographer, Naf lebih sering sendirian keluyuran di negeri orang.

 

Dhonny Setiawan

378053_10150487156633860_2111053124_nAslinya fotographer PBSI jadi tandem-nya Widya Amelia (reporter PBSI). Mungkin karena sudah bosan keliling dunia, akhirnya ditukar dengan Nafielah. Dhonny pun masuk ke tim empat. Beda-nya kalau di PBSI hanya ngerjain foto doang, tapi di tim empat harus menulis juga.

 

—-

Jadi begitulah lika-liku menjadi tim empat penunggu GOR Bulutangkis. Bila kamu “gila bulutangkis” mulailah berlatih menulis atau fotography dari sekarang. Siapa tahu nanti-nya menjalani profesi dan hobby sekaligus.

 

 

 

Tulisan Pertama Ahsan Setelah Juara Dunia 2015

20150816PBSI_BWF WC_HENDRAAHSAN5(23 Agustus 2015)

Sepekan sudah Kejuaraan Dunia 2015 berakhir. Denyut kompetisi bulutangkis sudah berpindah tempat. Dilevel Internasional, tim Indonesia yang berlaga di Singapore International Series berhasil meraih 3 gelar juara melalui Gregoria Mariska (tunggal putri), Jauza Sugiarto/Apriani (ganda putri) dan Hafiz Faisal/Shella Devi Aulia (ganda campuran). Selain itu ada ajang domestik Djarum Sirnas Yogyakarta yang ditandai dengan kembalinya raja dan ratu Sirnas, Alamsyah dan Febby Angguni ke tampuk juara.

Tapi kemenangan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan sebagai Juara Dunia tahun 2015 masih belum mau “lari” dari ingatanku. Aku hadir ditengah lautan penonton Istora secara bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemenangan terasa sangat indah karena tepat sehari menjelang Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke-70.

Ruang konferensi pers media centre pun langsung penuh oleh para jurnalis. Seusai upacara penghargaan, Ahsan dan Hendra langsung digiring di ruangan ini bersama pelatih mereka Herry IP. Pernyataan-pernyataan sang juara dunia pasti sudah anda baca diberbagai media baik online, cetak maupun televisi.

Setelah acara, aku langsung menyodorkan “Majalah Bulutangkis Indonesia” edisi perdana ke Ahsan dan Hendra. Ahsan pasti ingat, sekitar enam tahun yang lalu, dia pernah kami sambangi untuk sesi wawancara dan foto buat majalah “Jurnal Bulutangkis”. Ketika aku sodori kertas dan pulpen untuk menuliskan komentarnya tentang Majalah Bulutangkis Indonesia,secara spontan dia pun menuliskan “Akhirnya ada lagi majalah bulutangkis di Indonesia” dan membubuhkan tanda tangannya. Tulisan tangan pertama-nya setelah Juara Dunia 2015 ini, rencananya akan dimasukkan di Majalah Bulutangkis Indonesia Edisi kedua nanti.

Kombul for Kejuaraan Dunia

Kombul WBC 2015aAda kegembiraan lain yang aku rasakan di ajang Kejuaraan Dunia ini. Kombul (Komunitas Bulutangkis) yang merupakan kelompok pecinta bulutangkis Indonesia yang aku bina, tampil mengikuti lomba suporter Kejuaraan Dunia. Hasilnya pun cukup memuaskan, dengan meraih trophy juara 5 dan hadiah 2,5 juta. Memang belum bisa menyamai prestasi juara 3 lomba suporter Indonesia Open 2014, tetapi tim kali sangat terasa kekompakannya.

Jurnalis Bulutangkis dari Timur

IMG_6116Situs Jurnal Bulutangkis telah menjadi sarana berlatih jurnalistik bulutangkis bagi pecinta bulutangkis yang tertarik dengan bidang ini. Partisipasi dapat dilakukan dengan mengirimkan tulisan untuk ditampilkan di jurnalbulutangkis.com . Namun lebih khusus lagi, untuk anggota kombul diprioritaskan menjadi tim liputan JB di acara bergengsi dengan syarat tertentu. Di ajang Indonesia Open 2015, JB mengirimkan 4 jurnalisnya sebagai tim peliput yang terdiri dari Rizaldy F, Deby Dahlia, Rai Benavi dan M. Soleh.

Nah, untuk Kejuaraan Dunia hanya 1 orang yang diperkenankan panitia dari dua yang didaftarkan JB. JB mendaftar Rizaldy dan Maria Estianti yang lebih sering dipanggil Esti. Karena panitia hanya memilih satu, maka Esti didaftarkan untuk meliput acara “Legends’ Vission” yang dilaksanakan tanggal 17 Agustus 2015 atau sehari setelah Kejuaraan Dunia.

Esti adalah mahasiswi Fikom Universitas Nusa Cendana, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Begitu mengetahui namanya bisa ikut liputan acara yang menghadirkan Taufik Hidayat, Lee Chong Wei dan Peter Gade tersebut, ia langsung terbang ke Jakarta. Ia ingin menerapkan pengalamannya di bangku kuliah, menjadi pengalaman nyata. Ia pun menyebutnya sebagai “Pertama kali Menjadi Orang Media”. Selalu harus ada langkah pertama untuk menapak langkah selanjutnya. Dengan sedikit pengalaman bersama JB semoga ia mencapai cita-citanya menjadi Jurnalis Bulutangkis Dari Timur. Tetapi tentunya setelah menyelesaikan kuliahnya.

Seputar Kejuaraan Dunia

Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2015 belum berakhir. Meskipun begitu, saya mau corat coret beberapa hal seputar Kejuaraan Dunia ini.

1. Majalah Bulutangkis Indonesia
IMG01026-20150811-1527Saya merasa bangga akhirnya di momen Kejuaraan Dunia ini, Indonesia kembali memiliki majalah khusus bulutangkis. Sebelumnya Indonesia pernah mengenal tabloid dan majalah “Raket”, lalu tabloid ” Smash” dan terakhir majalah “Jurnal Bulutangkis”. Nah, saat ini tumbuh kembali majalah dengan nama Bulutangkis Indonesia”.

Sedikit cerita tentang majalah ini, dimulai ketika acara drawing Kejuaraan Dunia di Mesium Bank Indonesia.

“Hend, bisa ngobrol sebentar,” sebuah sapaan yang mengagetkan dari seorang wartawan senior bernama Daryadi. Sapaan yang mengisyaratkan ada hal yang sedikit serius dari biasanya. Ternyata bang Daryadi akan menerbitkan majalah Bulutangkis Indonesia, dan meminta saya membantu ‘satu-dua’ tulisan. Sekarang majalah tersebut sudah terbit untuk edisi perdana dan beredar di area Istora tempat penyelenggaraan Kejuaraan Dunia.

Harapan saya, semoga majalah ini bertahan lama mengisi khasanah perbulutangkisan Indonesia. Untuk saya pribadi, kalau ada honor dari tulisan di majalah ini maka akan saya kumpulkan untuk wakaf area pemakaman di kampung nenek saya. (Yang terakhir ini gak ada hubungannya dengan bulutangkis sih, tetapi semoga jadi doa agar majalahnya bertahan lama. Dan juga, kalau ada pembaca disini mau ikut menyumbang untuk wakaf tersebut, maka akan diterima dengan senang hati hahaha)

2. Daryadi, Wartawan Senior
IMG_20150823_170945Siapakah Daryadi, wartawan senior penggagas majalah Bulutangkis Indonesia? Kalau anda sering menonton siaran langsung ajang Indonesia Open di stasiun Televisi, tentu anda sering mendengar suaranya. Dialah komentator selama pertandingan berlangsung. Selain itu, saat ini ia juga komentator untuk stasiun Fox Sport untuk siaran langsung bulutangkis berbahasa Indonesia. Untuk kejuaraan dunia ini, ia harus terbang ke Singapura mulai babak perempat final untuk menjadi komentator di studio Fox Sport. Kesibukan lain dari Daryadi yang saya tahu adalah sebagai pemimpin perusahaan untuk majalah politik, Pemred.

Perkenalan saya dengan Daryadi terjadi empat tahun lalu. Ia yang merupakan pengurus PWI SIWO Jaya, menjadi panitia turnamen antar media. Saya saat itu merupakan peserta turnamen mewakili media bulutangkis.com .

Demikian sekilas profil penggagas Majalah Bulutangkis Indonesia ini, sepanjang yang saya ketahui

3. Liputan Kejuaraan Dunia
IMG-20150813-WA0000Peliputan Kejuaraan Dunia ternyata lebih rumit daripada liputan Indonesia Open bulan Juni lalu. Menurut sumber dari PBSI, peraturan dari BWF sangat ketat, apalagi wartawan asing yang dating lebih banyak daripada turnamen superseries. Beberapa hari menjelang Kejuaraan Dunia berlangsung situs http://www.jurnalbulutangkis.com belum mendapat persetujuan untuk liputan. Untunglah di menit-menit akhir jelang Kejuaraan, akhirnya disetujui satu orang jurnalis. Ini berbeda dengan Indonesia Open yang bisa menempatkan empat orang jurnalis sekaligus. Jurnal Bulutangkis mendaftarkan dua jurnalis yakni Rizaldy Febriansyah dan Maria Estianti. Dari pihak PBSI memilih Rizaldy untuk liputan ini.

4. Cipika Cipiki Ihsan
IMG_2854Booth Djarum Foundation menyelenggarakan acara Meet & Greet selama Kejuaraan Dunia berlangsung. Kemarin (13/08), giliran Ihsan Maulana Mustofa dan Antony Ginting menemui penggemarnya. Namun kali ini ada yang sedikit unik. Tiba-tiba seorang penonton wanita cantik dari Perancis bernama Claire bermaksud cipika-cipiki ke Ihsan. Ihsan pun langsung mengelak, dan akhirnya mereka hanya foto bareng. Ini terjadi hanya karena perbedaan budaya. Buat orang barat, cipika-cipiki itu sama aja seperti bersalaman, tetapi berbeda dengan budaya timur. Dan Ihsan pun memegang erat budaya nenek moyangnya.