10 Fakta dan Data turnamen Junior International di Semester Pertama 2017

  1. Struktur turnamen Junior internasional terdiri dari :
  • Junior International Grand Prix
  • Junior International Challenge
  • Junior International Series
  • Junior Future Series
  1. Turnamen level Junior International Grand Prix tahun 2017, ada 4 turnamen dan 3 diantaranya sudah dilaksanakan. Berikut turnamen Junior International Grand Prix tahun 2017 :
  • Dutch Junior 2017 (1-5 Maret 2017)
  • German Junior 2017 (9-12 Mei 2017)
  • Pembangunan Jaya Raya International Junior Grand Prix (11-16 April 2017)
  • India International Junior Grand Prix (11-16 April 2017)
  1. Turnamen level Junior International Challenge tahun 2017, ada 3 turnamen dan 1 diantaranya sudah dilaksanakan. Berikut turnamen Junior International Challenge tahun 2017 :
  • Yonex – Shera – Roza – BTY International Challenge 2017 (4-9 April 2017)
  • Malaysia International Junior Open 2017 (5-9 September 2017)
  • Korea Junior Badminton Championships (13-19 September 2017)
  1. Indonesia belum berhasil meraih gelar juara untuk turnamen Junior International Grand Prix. Prestasi terbaik Indonesia adalah finalis, yaitu :
  • Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay (tunggal putra, Jaya Raya Grand Prix)
  • Agatha Imanuela / Siti Fadia Silva Ramadhanti (ganda putri, Jaya Raya Grand Prix)
  1. Sedangkan pemain Indonesia yang berprestasi sebagai semifinalis Junior International Grand Prix, yaitu :
  • Gatjra Piliang Fiqihila Cupu (tunggal putra, Jaya Raya Grand Prix)
  • Sri Fatmawati (tunggal putri, Jaya Raya Grand Prix)
  • Diana Setiyoningsih (tunggal putri, Jaya Raya Grand Prix)
  • Choirunnisa (tunggal putri, Dutch Junior)
  • Rizki Adam/Raynald Tangguh Hartanto (ganda putra, Jaya Raya Grand Prix)
  • Muhammad Shohibul Fikri/Abiyyu Fauzan Majid (ganda putra, Jaya Raya Grand Prix)
  • Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan /Rinov Rivaldy (ganda putra, Dutch Junior)
  • Serena Kani /Jauza Fadhila Sugiarto (ganda putri, Dutch Junior)
  • Agatha Imanuela / Siti Fadia Silva Ramadhanti (ganda putri, German Junior)
  • Agatha Imanuela / Siti Fadia Silva Ramadhanti (ganda putri, Jaya Raya Grand Prix)
  • Rinov Rivaldy /Angelica Wiratama (ganda campuran, Dutch Junior)
  • Yeremia Erich Yoche Yacob/ Ribka Sugiarto (ganda campuran, Jaya Raya Grand Prix)
  • Muhammad Shohibul Fikri/ Hilda Nur Fadilah (ganda campuran, Jaya Raya Grand Prix)
  1. Dari turnamen Junior International Challenge, baru dilaksanakan 1 turnamen yaitu Yonex – Shera – Roza – BTY International Challenge 2017 yang berlangsung di Bangkok, Thailand. Prestasi terbaik pemain Indonesia di turnamen ini adalah Gregoria Mariska (Juara tunggal putri)
  2. Sedangkan pemain Indonesia yang berprestasi sebagai semifinalis Yonex – Shera – Roza – BTY International Challenge 2017 adalah :
  • Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti (ganda putri)
  • Renaldi Samosir/ Hediana Julimarbela (ganda campuran)
  • Yeremia Erich Yoche Yacob/ Ribka Sugiarto (ganda campuran)
  1. Perolehan gelar juara Junior International Grand Prix sampai dengan semester 1 tahun 2017, sbb :
  • Korea (6 gelar juara)
  • Taipei (3 gelar juara)
  • Jepang dan Thailand (masing-masing 2 gelar juara)
  • Singapura dan Malaysia (masing-masing 2 gelar juara)
  1. Perolehan gelar juara Junior International Grand Prix sampai dengan semester 1 tahun 2017, sbb :
  • Korea (3 gelar juara)
  • Indonesia (1 gelar juara)
  • Thailand (1 gelar juara)
  1. Catatan diatas hanya untuk kategori kelompok umur U19 (under 19) dan tidak termasuk untuk kelompok U17 dan U15 yang diselenggarakan juga di turnamen Jaya Raya Grand Prix

Sumber : www.pbdjarum.org

Advertisements

10 Fakta dan Data turnamen International Challenge (IC) di Semester Pertama 2017

  1. Turnamen International Challenge (IC) merupakan turnamen level 4 BWF, berikut level dalam turnamen BWF :
    1. Level 1, BWF World Event (World Championships, Thomas Cup, Uber Cup, Sudirman Cup)
    2. Level 2, BWF World Superseries (World superseries Final, World Superseries Premier, World Superseries)
    3. Level 3, Grand Prix (Grand Prix Gold, Grand Prix)
    4. Level 4, BWF Events (International Challenge, International Series, Future Series)
  1. Turnamen IC, merupakan turnamen dengan hadiah tertinggi di level 4, sbb :
    1. International Challenge (minimal $20,000)
    2. International Series (minimal $8,000)
    3. Future Series (sampai dengan $8,000)
  1. Tahun 2017 ini, Indonesia tidak menyelenggarakan turnamen level IC
  2. Sampai dengan semester pertama 2017, diselenggarakan 12 kali turnamen level International Challenge (IC), yaitu :
    1. China IC
    2. Iran Fajr IC
    3. Austrian IC
    4. Brazil IC
    5. Hanoi Vietnam IC
    6. Polish IC
    7. Osaka IC (Jepang)
    8. Orleans IC (Perancis)
    9. Finish IC
    10. Peru IC
    11. Thailand IC
    12. Spanish IC
  1. Dari ke-12 turnamen, diperebutkan 5 gelar juara (tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri & ganda campuran) kecuali di Iran Fajr IC yang tidak mempertandingkan nomor ganda campuran.
  2. Berikut perolehan gelar juara pada turnamen IC :
    1. Jepang (15 gelar juara)
    2. China (10 gelar juara)
    3. Taipei, India, Brazil (masing-masing 3 gelar juara)
    4. Indonesia, Denmark, Korea, Thailand, Jerman, Polandia, Peru, Rusia, Belanda (masing-masing 2 gelar juara)
    5. Malaysia, Singapura, Vietnam, Srilangka, Kanada, Skotlandia, Irlandia (masing-masing 1 gelar juara)
  1. Lima negara tuan rumah yang tidak berhasil meraih juara di kandangnya adalah : Iran, Austria, Perancis, Finlandia dan Spanyol
  2. Indonesia meraih 3 gelar juara, yakni :
    1. Mohammad Ahsan/Rian Agung Saputro (ganda putra China IC)
    2. Panji Ahmad Maulana (tunggal putra Iran Fajr IC)
    3. Yulfirah Barkah/ Meirisa Cindy Sahputri (ganda putri Polish Open IC)
  1. Pemain yang meraih lebih dari satu gelar juara IC, adalah :
    1. Wang Sijie dari China (juara ganda putra Osaka IC, ganda campuran Osaka IC dan Thailand IC)
    2. Yu Hiragasi dari Jepang (Juara tunggal putra Osaka IC dan Spanish IC)
    3. Liao Min Chun dari Taipei (juara ganda putra Orleans IC dan Finish IC)
    4. Cheng Heng Su dari Taipei (juara ganda putra Orleans IC dan Finish IC)
  1. Negara penguasa masing-masing nomor adalah
    1. Tunggal Putra : Jepang (3 gelar)
    2. Tunggal putri : Jepang (4 gelar)
    3. Ganda putra : India (3 gelar)
    4. Ganda putri : Jepang (6 gelar)
    5. Ganda campuran : China (4 gelar)

10 Fakta dan Data Sirkuit Nasional (Sirnas) di Semester Pertama 2017

  1. Sampai dengan semester pertama 2017, baru terselenggara 2 kali Sirnas, yaitu :
    1. Sirnas Sulawesi Utara Open di Manado (13-18 Maret 2017)
    2. Sirnas Kalimantan Open di Balikpapan (27 Maret – 1 April 2017)
  2. Sirnas seri ketiga yaitu Sirnas Premier Jakarta Open rencananya dilaksanakan 1-6 Mei 2017, ditunda ke semester kedua, yakni 10-15 Juli 2017, serta lokasi pertandingan pun dipindah ke Cilegon
  3. Berikut Perolehan Gelar pada Sirnas Sulawesi Utara Open di Manado :
    1. PB Djarum Kudus (5 gelar juara)
    2. Exist Jakarta (5 gelar juara)
    3. Jaya Raya (1 gelar juara)
    4. Tangkas Intiland (1 gelar juara)
    5. Semen Gresik (1 gelar juara)
    6. Pertamina (1 gelar juara)
    7. Gabungan Tjakrindo/SGS PLN (1 gelar juara)
  1. Berikut Perolehan Gelar pada Sirnas Kalimantan Open di Balikpapan :
    1. Exist Jakarta (7 gelar juara)
    2. Jaya Raya Jakarta (2 gelar juara)
    3. Samrock Medan (1 gelar juara)
    4. Halim Jakarta Utara (1 gelar juara)
    5. Pertamina (1 gelar juara)
    6. Mutiara Bandung (1 gelar juara)
    7. Pusdiklat Telkom (1 gelar juara)
    8. SKO Ragunan (1 gelar juara)
  1. Dengan demikian total perolehan gelar sementara adalah :
    1. Exist Jakarta (12 gelar juara)
    2. PB Djarum Kudus (5 gelar juara)
    3. Jaya Raya Jakarta (3 gelar juara)
    4. Pertamina (2 gelar juara)
    5. Tangkas Intiland (1 gelar juara)
    6. Semen Gresik (1 gelar juara)
    7. Gabungan Tjakrindo/SGS PLN (1 gelar juara)
    8. Samrock Medan (1 gelar juara)
    9. Halim Jakarta Utara (1 gelar juara)
    10. Mutiara Bandung (1 gelar juara)
    11. Pusdiklat Telkom (1 gelar juara)
    12. SKO Ragunan (1 gelar juara)
  2. Pertandingan Sirkuit Nasional (Sirnas) dibagi dalam tiga kelompok umur, yakni :
    1. Dewasa (usia bebas)
    2. Taruna (under 19 tahun)
    3. Remaja (Under 17 tahun), Ket : masing-masing kelompok umur mempertandingkan nomor tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri dan ganda campuran
  1. Pemain dari kelompok dewasa yang meraih lebih dari satu gelar juara adalah :
    1. Dian Fitriani dari Pertamina dengan 2 gelar juara (ganda putri Sirnas Suluwesi Utara Open & Kalimantan Open)
    2. Nadya melati dari Pertamina dengan 2 gelar juara (ganda putri Sirnas Suluwesi Utara Open & Kalimantan Open)
    3. Irfan Fadhilah dari Jaya Raya dengan 2 gelar juara (ganda putra & ganda campuran Kalimantan Open)
  1. Di kelompok taruna, belum ada pemain yang mampu meraih lebih dari 1 gelar juara
  2. Pemain dari kelompok remaja yang meraih lebih dari satu gelar juara adalah Nita Violina Marwah dari Exist Jakarta dengan 2 gelar juara (ganda putri Sirnas Suluwesi Utara Open & ganda campuran Sirnas Kalimantan Open)
  3. Sirkuit Nasional (Sirnas) masih menyisakan enam seri lagi, yakni di kota :
    1. Cilegon (10-15 Juli 2017)
    2. Bandung (17-22 Juli 2017)
    3. Semarang (21-26 Agustus 2017)
    4. Batam (4-9 September 2017)
    5. Mataram (2-7 Oktober 2017)
    6. Surabaya (23-28 Oktober 2017)

Sumber : Hendri/forum.pbdjarum.org

10 Fakta dan Data Turnamen Grand Prix Gold di Semester Pertama 2017

  1. Turnamen level Grand Prix Gold sudah menyelesaikan 7 seri di semester pertama tahun 2017, yaitu :
    1. Malaysia Masters
    2. India GPG
    3. Thailand Masters
    4. German Open
    5. Swiss Open
    6. China Masters
    7. Thailand Open
  1. Negara peraih gelar juara adalah :
    1. China (12 gelar juara)
    2. India (5 gelar juara)
    3. Indonesia (4 gelar juara)
    4. Thailand (4 gelar juara)
    5. Jepang (3 gelar juara)
    6. Denmark (3 gelar juara)
    7. Taipei (2 gelar juara)
    8. Malaysia (1 gelar juara)
    9. Hong Kong (1 gelar juara)
  1. Tidak ada negera yang selalu meraih gelar dalam 7 Grand Prix Gold semester pertama 2017.
  2. Jerman dan Swiss merupakan tuan rumah yang tidak mampu meraih gelar juara. Empat tuan rumah lainnya, Malaysia, India, Thailand (2 kali) dan China berhasil meraih gelar di negaranya sendiri.
  3. Pasangan ganda putra Indonesia Berry Anggriawan/Hardianto selalu berhasil menembus 4 besar di turnamen GPG yang diikuti yakni :
    1. Malaysia Masters (Juara, mengalahkan Goh Sze Fei/Nur Izzudin (MAS) di final)
    2. India GPG (Semifinalis, kalah dari Lu Ching Yao/ Yang Po Han (TPE))
    3. Thailand Masters (Semifinalis, kalah dari Lu Ching Yao/ Yang Po Han (TPE))
    4. China Masters (Semifinalis, kalah dari Takuto Inoue/ Yuki Kaneko (JPN))
    5. Thailand Open (Juara, mengalahkan Raphael Beck/ Peter Kaesbauer (GER) di final)
    6. German Open dan Swiss Open, tidak ikut serta
  1. Tidak ada pemain yang berhasil mencetak hattrick, tetapi hanya ada yang juara dua GPG berturut-turut yakni pasangan Zhang Nan/Li Yunhui (CHN) di Thailand Masters dan German Open.
  2. Atlet peraih gelar terbanyak dengan 2 gelar adalah
    1. Berry Anggriawan (INA)
    2. Hardianto (INA)
    3. Wang Yilyu (CHN)
    4. Zhang Nan (CHN)
    5. Li Yunhui (CHN).
  1. Pemain muda Indonesia Apriani Rahayu berhasil meraih gelar juara Grand Prix Gold pertamanya. Ia berpasangan dengan Greysia Polii menjuarai ganda putri Thailand Open
  2. Nomor tunggal putra, tunggal putri dan ganda campuran merupakan yang selalu dijuarai pemain Asia. Dua nomor lainnya terdapat pemain Eropa yang juara yakni
    1. Mathias Boe/Carsten Mogensen (DEN) di India GPG
    2. Christinna Pedersen/ Kamilla Ryther Juhl (DEN) di India GPG
    3. Kim ASTRUP /Anders Skaarup RASMUSSEN (DEN) di German Open
  1. Negara penguasa masing-masing nomor adalah
    1. Tunggal Putra : India dan China (2 gelar)
    2. Tunggal putri : India, Thailand dan Jepang (2 gelar)
    3. Ganda putra : Indonesia, Denmark, China (2 gelar)
    4. Ganda putri : China (3 gelar)
    5. Ganda campuran : China (4 gelar)

 

10 Fakta dan Data Superseries Semester Pertama 2017

  1. Superseries dan Superseries Premier sudah menyelesaikan 6 seri di semester pertama tahun 2017, yaitu :
    1. All England SSP
    2. India SS
    3. Malaysia SSP
    4. Singapura SS
    5. Indonesia SSP
    6. Australia SS
  1. Negara peraih gelar juara adalah :
    1. China (8 gelar juara)
    2. Jepang (6 gelar juara)
    3. Indonesia (4 gelar juara)
    4. India (4 gelar juara)
    5. Taipei (3 gelar juara)
    6. Denmark (3 gelar juara)
    7. Malaysia (1 gelar juara)
    8. Korea (1 gelar juara)
  2. China merupakan satu-satunya negera yang selalu meraih gelar dalam 6 superseries/premier semester pertama 2017.
  3. Indonesia dan India merupakan tuan rumah yang mampu meraih gelar juara. Empat tuan rumah lainnya, Inggris, Malaysia, Singapura dan Australia gagal meraih gelar di negaranya sendiri.
  4. Pasangan ganda putra Indonesia Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon, mampu mencetak hattrick dalam tiga seri berturut-turut yakni All England, India dan Malaysia.
  5. Pemain tunggal putri Taipei Tai Tzu Ying juga menciptakan hattrick di tiga seri yang diikutinya yakni All England, Malaysia dan Singapura, tetapi bukan tiga seri berturut-turut karena ia tidak ikut di India
  6. Atlet peraih gelar terbanyak dengan 3 gelar adalah :
    1. Kevin Sanjaya (INA)
    2. Gideon Marcus Fernaldi (INA)
    3. Lu Kai (CHN)
    4. Tai Tzu Ying (TPE)
    5. Huang Yaqiong (CHN)
    6. Chen Qing Chen (CHN).
  7. Disusul dengan peraih 2 gelar adalah :
    1. Srikant Kidambi (IND)
    2. Zheng Siwei (CHN).
  8. Nomor tunggal putri dan ganda campuran merupakan yang selalu dijuarai pemain Asia. Tiga nomor lainnya terdapat pemain Eropa yang juara yakni :
    1. Victor Axelsen (DEN) di India SS
    2. Mathias Boe/Carsten Mogensen (DEN) di Singapura SS
    3. Christinna Pedersen/ Kamilla Ryther Juhl (DEN) di Singapura SS
  9. Negara penguasa masing-masing nomor adalah :
    1. Tunggal Putra : India (3 gelar),
    2. Tunggal putri : Taipei (3 gelar),
    3. Ganda putra : Indonesia (3 gelar)
    4. Ganda putri : Jepang (3 gelar)
    5. ganda campuran : China (5 gelar)

Sumber : Hendri/forum.pbdjarum.org

Semangat Tanpa Batas

20161127pbsi_hoss_tontowililiyana14Kalimat “semangat tanpa batas” diucapkan Liliyana Natsir dalam tayangan iklan televisi disela-sela penanyangan langsung babak final Hong Kong Open Superseries dimana bertemunya dua finalis asal Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto. Kalimat yang disampaikan tersebut bukan sekedar memenuhi tuntutan peran dalam iklan tetapi juga terpatri di lapangan. Tontowi/Liliyana berhasil meraih juara setelah mengalahkan yuniornya tersebut dengan skor, 21-19 dan 21-17.

Keberhasilan Tontowi/Liliyana di Hong Kong ini, berarti mereka menjuarai dua turnamen besar berturut-turut dalam dua minggu. Bagi pemain kawakan seperti mereka, memang bukanlah suatu kejutan besar. Namun dibalik itu, ada sebuah perjuangan tanpa batas yang berhasil mereka lewati. Liliyana yang sudah terlihat cedera sejak pekan sebelumnya di China Open Superseries, tetap tampil bersemangat di Hong Kong.

“Kami sangat puas dengan hasil ini. Karena kami bisa merebut dua gelar dalam dua minggu. Dengan kondisi saya yang seperti ini, tentu saya mengucap syukur kepada Tuhan atas prestasi yang kami peroleh,” kata Liliyana kepada situs remi PBSI.

“Tadinya kami sempat ingin memutuskan untuk mundur setelah Ci Butet (Liliyana Natsir) agak cedera. Kami juga sempat ragu-ragu untuk main di sini. Tapi saya meyakinkan Ci Butet bahwa kami bisa main di sini. Apalagi saya lihat arah angin di lapangan cocok buat kami. Jadi coba aja, kami paksa buat main di sini. Ternyata benar, hasilnya bisa maksimal,” ujar Tontowi.

Demikianlah komitmen besar seorang Liliyana, bahkan tidak menyerah walaupun lawan pamungkas adalah yuniornya sendiri. Tetapi “semangat tanpa batas”, bukan hanya milik Liliyana. Kalau kita menyaksikan seksama pertandingan di Hong Kong, terlihat daya juang Tontowi yang mengcover sebagian besar lapangan. Dengan keterbatasan gerak dari Liliyana, Tontowi berhasil menutup ruang dengan baik. Kedua pemain juga tidak cepat puas dengan prestasi-prestasi sebelumnya meskipun mereka sudah meraih prestasi tertinggi yakni emas Olimpiade.

“Setelah kami mendapat medali emas Olimpiade, mungkin orang berpikir kami sudah santai-santai dan nggak mikir prestasi lagi. Tapi ternyata kami bisa membuktikan di China Open Super Series Premier dan di sini lanjut lagi menang di Super Series,” kata Liliyana.

Pelajaran berharga dari dua pebulutangkis senior Indonesia ini, yang patut menjadi contoh bagi yunior-yuniornya. Bahkan bisa dijadikan inspirasi bagi semuanya dalam berjuang dibidang profesinya masing-masing.

(hendrigumay.wordpress.com )

Terhentinya Sebuah Kejayaan

20161120pbsi_cossp_marcuskevin13 20161120pbsi_cossp_tontowililiyana2(20/11/2016)

Indonesia meraih dua gelar juara China Open 2016 melalui pasangan ganda putra Kevin Sanjaya/Gideon Marcus Fernaldi dan pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Mereka bersama Jan O Jorgensen (Denmark-tunggal putra), PV Shindu (India-tunggal putri) dan Chang Ye Na/Lee So Hee (Korea-ganda putri), telah menihilkan gelar juara untuk tuan rumah China. Menurut catatan pribadi saya sejak 1986, belum pernah terjadi, China kehilangan semua gelar juara. Bahkan minimal, China merebut dua gelar juara. Kini, setelah 30 tahun, kegagalan itu terjadi.

Keruntuhan kejayaan China ini terjadi, setelah didahului oleh puncak kejayaan. Sebuah kejayaan telah membuat sang empu kejayaan menjadi terlena. Penyiapan generasi penerus tersumbat oleh kehebatan pendahulunya, yang selalu dikedepankan.

Indonesia pun sebenarnya sudah lebih dahulu mengalaminya. Sejak Indonesia Open digelar tahun 1982, Indonesia selalu meraih gelar juara sampai akhirnya gagal total tahun 2007. Artinya runtuhlah kejayaan selama 25 tahun. Demikian pula tradisi emas Olimpiade yang dibuat Indonesia sejak tahun 1992, sempat terputus setelah 20 tahun, atau tepatnya tahun 2012.

Belajar dari pengalaman tersebut, sudah seharusnya lapisan generasi penerus menjadi perhatian. Tuntutan masyarakat agar meraih gelar juara, telah menempatkan pemain senior menjadi fokus utama. Penyiapan regenerasi baru, sering dilupakan.

Ibarat sebuah kebun, seharusnya pengurus jangan hanya fokus kepada pohon yang sedang berbuah, tetapi juga menyiapkan pohon-pohon yang tidak bisa berbuah sekarang dan baru bisa dipetik oleh generasi pengurus selanjutnya. Memang bukan hal yang mudah, tetapi bukan tidak dapat dilaksanakan. Hanya diperlukan sebuah “jiwa besar”.